Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

Ketenangan

Aku perhatikan Indah, ia hafal surah Yasin. Tak perlu membaca, gadis bermata sayu itu sudah dapat melafalkan setiap ayatnya mengikuti suara keras pak Ustadz yang memimpin membaca Yasin. “Indah hebat, bisa hafal surat Yasin. Rutin membacanya ya?” Sambil tersenyum aku mengapresiasi Indah sekaligus memastikan. “Dulu bu, waktu mama meninggal Indah setiap hari membaca Yasin. Kalau sekarang setiap malam Jum’at saja.” Indah menjelaskan. Sesuai dugaanku, saat ini biasanya hanya orang-orang tua yang hafal surat Yasin. Anak-anak kekinian yang ujian hidup dizamannya sangat besar, jarang sekali yang dapat menghafalkannya. Padahal dahulu, surat Yasin adalah surat yang paling dikenal setelah Al Fatiha dan tiga surat terakhir. Pasti ada cerita mengapa Indah dapat hafal surat itu. Tentulah ia membaca surat Yasin disaat paling ingin mendapatkan ketenangan. Disaat paling bersedih dirinya. Indah melakukanya sebagai bentuk bakti seorang anak kepada orangtua yang telah tiada. Ya, aku tela

Suara Hati

Dengarkan suara hati lalu timbanglah dengannya. Apapun masalah kita, apapun yang telah kita lakukan, apapun yang kita harapkan, apapun itu. Benar atau tidaknya timbanglah dengan suara hati. Diam sejenak, merenungi setiap apa yang dilakukan dan dipikirkan. Jauh dari hiruk pikuk katanya-katanya. Hati adalah fitrah yang paling jujur akan kebenaran. Jikalaulah kita merasa tenang dan tentram akannya, maka teruskanlah. Dan jika sebaliknya, gelisah dan  gulana, maka hentikan dan perbaikilah. Saat ini, dikala semua bergerak dengan cepat, disaat semua bermain instan, terkadang kita terlupa untuk sejenak beristirahat. Saat ini, dikala semua menjadi serba tahu, disaat mesin pencari bergerak sepersekian menit, terkadang kita lupa akan pemberi jawaban sesungguhnya. Hati, iya hati kita. Ia sangat dekat, tetapi saat ini seolah terlupa untuk diajak bicara. Berkontemplasi istilahnya, sejenak saja. Merenungi setiap detik yang terlalui untuk mencari jawab. Aku, kamu, dan

Cermati, Sadari, Lalu Syukuri

“Nak, Allah itu Maha Adil, Dia pasti telah menciptakan kita dengan kelebihan kita masing-masing. Cuma terkadang pikiran kita tentang nikmat Allah yang dilebihkan kepada kita dan tidak didapat orang lain itu belum terpikirkan.” Kalimat ini sering sekali saya ulang-ulang ketika memotivasi siswa. Meskipun sebenarnya tujuannya adalah penekanan kepada saya sendiri. Mengingatkan kembali untuk lebih banyak bersyukur. Anak-anak yang selalu dititipkan kepadaku sebagai wali kelasnya adalah anak-anak unggulan. Anak-anak dengan nilai paling   tinggi yang mendaftar di sekolah itu dirangking sampai tingkatan ke-30 terbaik, lalu dipagkas masuk kelas itu. Atmosfer kelas   sangat kompetitif, study oriented sering menjadi momok bagi penghuninya. Semua hampir lengkap. Kandidat-kandidat peserta OSN, O2SN, FL2SN, lomba debat, lomba literasi, lomba KIR dan semua kompetisi siswa   selalu diincar dari kelas unggulan ini. Mereka yang terbaik. Akan tetapi tentunya dalam satu kelas tidak semuanya nyam

Menjaga Sholat Rawatib

Mata Cerah membulat memberi arti yang berbeda, tetapi seperti biasa ia hanya diam. Apa yang salah pikirku. Cerah yang selama ini sangat menjaga lisan. Selalu berprasangka baik dan berpikir sebelum bertanya atau menghakimi. Pasti ada sesuatu yang salah yang telah aku lakukan. Minimal sesuatu yang membuat Cerah sangat ingin bertanya namun karena akhlaknya, ia hanya diam dengan tatapan demikian. Cerah kembali ke kamarnya, meninggalkan aku dengan sebuah pertanyaan.   Memang kamar kami bersebelahan. Jika telah masuk waktu sholat, maka sholat berjama’ah biasa dilakukan di kamar salah satu dari kami. Sambil melipat mukena dan merapikan sajadah aku berpikir. Apa yang mengganggu pikiran Cerah. Seketika aku tersenyum dan menjadi sangat malu. Aku ini apa-apaan. Apakah aku sakit, atau butuh Aqua? Akhirnya aku tergelak sendiri, sambil menutup muka dengan mukena yang baru saja aku lipat. Rupanya bulat mata Cerah ingin bertanya, sholat apa yang sedang aku kerjakan. Kami baru saja sholat Ash

Makanan Halal dan Thoyyib Itu Konjungsi

Apakah yang halal itu sudah pasti baik? Apakah yang baik itu sudah pasti halal? Hubungan keduanya bukanlah implikasi atau biimpilkasi. Kedua jenis syarat ini adalah konjungsi. Mutlak kedua-duanya harus ada. Masih ingat pelajaran Matematika tentang ini. Konjungsi, lambangnya   berupa simbiol ê“¥. Biasanya dihubungkan dengan kata hubung ‘dan’. Perhatikan Adapun tabel nilai kebenaran konjungsi berikut ini: p q p ê“¥ q B B B B S S S B S S S S Perhatikan tabel di atas. Hanya pernyataan p yang bernilai benar dan pernyataan q yang bernilai benar saja yang akan bernilai benar. Selainnya adalah salah. Salah satu salah maka akan salah. Apalagi jika keduanya bernilai salah, tentu saja menjadi salah. Jadi hanya ketika kedua pernyataan benar, maka akan benar. Terkait dengan hubungan makanana halal dan tayyib maka akan sama dengan konjungsi di atas. Perhatikan tabel nilai kebenarannya di baw

Hidayah Melalui Al Quran

Bagaimana cara mendapat hidayah melalui Al-Quran. Bukankah Al-Quran itu petunjuk yaitu hidayah itu sendiri. Apakah setiap orang yang hendak mendapat hidayah harus membaca dan memahami Al-Quran. Apakah kalian masih ingat bagaimana kisah sahabat Umar masuk Islam. Tentu saja, seorang sekeras Umar dapat luluh dengan lantunan bacaan Al-Quran. Begitulah cara Allah untuk memberi hidayah kepada Umar dengan cara mendengar Al Quran ketika dibaca. Yang demikian adalah cara yang pertama. Cara kedua tentu saja dengan cara membacanya sendiri, memahaminya dan mempelajari lebih dalam isi dan kandungannya. Tidak perlu sekelas ahli tafsir atau musafir, yang terpenting bagaimana upaya kita untuk memahami dan mempelajarinya. Bukankan banyak yang berujar, “Seolah masalah saya terjawab ketika membaca terjemah Al Quran yang saya   baca pada ayat itu.” Yang demikian lebih dari cukup. Apalagi dengan mengkajinya lebih jauh. Yang terakhir adalah dengan cara mendengar, melihat dan merasakan apa yang

Bukan Karena Kerudung

Mungkin hari itu aku berpikir akan sudah tinggal nama. Jika mengingat kembali maka aku akan kembali   bergidik dan ketakutan kembali. Jikalaulah bukan karena Allah, maka hari itu aku sudah selesai. Ketika itu aku masih duduk di bangku SMA. Sudah menggunakan kerudung, yang kala itu hanya aku, anak guru Agama dan anak-anak keturunan Arab yang melakukannya. Masih sangat jarang, kerudung belum sepopuler sekarang. Sebutan ‘Ninja’ atau disematkan kategori sangat alim terdengar berlebihan. Toh itu kewajiban dan merupakan sehelai kain saja. Kembali kepada cerita hari itu. Aku bersama kakak perempuanku hendak ke rumah nenek. Kami pergi dengan menaiki angkot seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda atau firasat akan mendapatkan kejadian buruk. Angkot melaju dengan kecepatan sedang. Mengambil posisi di kiri jalan sambil sopir tetap sigap menyisir jalan untuk mencari penumpang. Isi angkot cukup penuh, kursi belakang berisi tiga orang, di tengah empat orang termasuk kami dan di depan

Memperbaiki Kualitas Sholat

Mutaba’ah anggota baru Rohis itu cukup sholat tepat waktu, mengusahakan berjamaah dan menghadirkan hati dalam sholat. Itu saja, lebih dari cukup. Jangan dulu diberikan mutaba’ah sholat dhuha dan sholat malam. Perlahan-lahan, nanti baru ditingkatkan kuantitasnya. Anggota Rohis baru itu dikondisikan terlebih dahulu kualitas sholat wajibnya.   Pertama, usahakan tepat waktu, artinya menunggu waktu sholat. Siapkan denga wudhu ketika adzan atau sebelum adzan berkumandang. Untuk melaksanakan sholat tepat waktu itu harus memiliki komitmen yang kuat untuk dilaksanakan. Betapa banyak alasan untuk menunda waktu sholat. Nanti dan nanti, apalagi jika sedang ada urusan. Alasan belajar, membuat PR, sedang memasak, menonton acara televisi, atau sekedar sedang mengobrol dapat mudah menunda waktu sholat. Oleh karenanya hal harus diperbaiki terlebih dahulu adalah kualitas mengutamakan waktu sholat dengan melaksanakannya secara tepat waktu. Kedua, utamakan untuk berjamaah. Bagi laki-laki tentunya

Memenangkan, Belajar dari Kisah Nabi Adam

Pernah membaca kisah Nabi Adam? Tentunya iya, atau meski tidak membaca lengkap kisahnya namun semua akan mengetahui bahwa Nabi Adamlah ihwal penciptaan manusia pertama. Kadang saya sendiri, apalagi di masa-masa pencarian jati diri, remaja ceritanya, pernah berpikir mengapa   saya diciptakan di dunia. Apalagi menjadi manusia itu tidak mudah, banyak godaannya. Apalalagi dizaman-zaman labil itu, keinginan untuk mengikuti gaya hidup teman-teman yang berlebih sangat tinggi, konsumtif dan hedonisme. Sepertinya susah sekali untuk tetap menjadi anak baik. Godaan-godaan nafsu duniawi sangat kuat. Kala itu saya juga berpikir mengapa saya sebagai manusia tercipta dengan pergolakan antara nafsu yang baik dengan tidak baik. Setiap hari seperti itu saja. Tinggal siapa yang akan memenangkannya, yaitu siapa yang paling kuat hari itu atau saat itu. Bisa menjadi baik atau sebaliknya. Mengapa harus demikian, mengapa ada godaan itu. Akhirnya pertanyaan-pertanyaan mengapa itu mulai terjawab denga

Penyesalan

Kata sang guru bahwa dalam satu tangkai padi pun ada yang tidak berisi. Jadi bersabarlah pesannya. Itulah hari dimana aku tidak dapat membendung cerita lagi. Bagaimana ia membantah orang tua dan membuat air mata ibu berderai setiap malam. Aku bisa apa? Aku memilih mendiamkan adik. Rasa marah terlalu besar sehingga menahan lidah untuk sekedar menyapa. Salah yang bertambah-tambah setiap hari. Bagaimana pula hati ini dapat memaafkannya. Ibunya adalah ibuku juga. Siapa yang tega melihat air mata ibu setiap hari. Bertahun-tahun tanpa ada perubahan. Bergadang setiap malam, bolos sekolah, berkelahi dan ikut tawuran, badan penuh tato dan kerjanya hanya meminta uang. Uang dan uang, serta harus ada. Jika ibu berkata tidak punya uang, maka bersiaplah perang dunia di rumah. Lelah hati dan pikiran membuat raut wajah ibu semakin cepat menua. Kapan sadarnya? Aku berpikir sampai kapan adik akan berubah. Menunggu masa itu terasa sangat melelahkan. Pernah anak didikku berkata jika aku memp

Banyak-banyak Bersyukur

Ayah dan ibuku selalu berkata, “Banyak-banyak bersyukur.” Kalimat itu masih terngiang sampai saat ini. Meskipun aku sudah jarang mendengarnya sekarang atau karena aku sudah mulai paham sehingga ayah dan ibu tidak mengulanginya. Ceritanya aku lahir dari keluarga yang sangat sederhana, bahkan cenderung prihatin. Berbagai keterbatasan membuat kami, anak-anaknya, termasuk aku, menjadi sering mengeluh. Misalnya ketika sarapan pagi terhidang, maka kami sering berkomentar, “Nasi goreng terus.” Atau ketika meminta uang jajan dan tidak diberikan kami selalu kesal dan mengeluh, “Teman-teman di sekolah selalu punya uang jajan banyak.” Serta banyak lagi diberbagai kesempatan, kami selalu mengeluh. Ayah dan ibu dengan sabar selalu mengulang nasehatnya agar kami banyak bersyukur. Ayah juga bilang untuk melihat ke bawah bukan ke atas. Ayah mengingatkan betapa banyak orang yang tidak seberuntung kami. Ada yang tidak mampu makan tiga kali sehari, tidak bisa bersekolah, tidak punya tempat ti

Rambu Mengajak

Bagaimana bisa mengajak jika kita sendiri belum memulai. Masih teringat kalimat guruku dulu, “Jika kita mengajak tapi kita belum melakukannya, maka kalimat ajakan kita akan kering, tidak ada ruhnya.” Mungkin ini adalah peringatan untuk diriku sendiri. Sebagai seorang yang pada beberapa kesempatan duduk bersama dengan akhwat-akhwat generasi muda, tentunya membuat aku harus mengajak. InshaAllah mengajak pada kebaikan dan menjauhi apa yang dilarang. Terkadang ada semburat malu. Apakah pantas diri ini mengajak. Ah, yang terpenting aku berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakan apa yang aku lisankan kepada mereka. Ada beberapa rambu yang akan aku ingat jika lidah ini sudah sangat ingin berkata ajakan yang aku sendiri belum laksanakan. Diantaranya adalah: Ingatlah Allah melarangya. Tumbuhkan persaan malu untuk mengajak apa yang belum dilakukan. Hanya katakan ajakan perbuatan yang sudah dikerjakan. Meminta kepada Allah agar menjaga lisan untuk mengajak yang belum dikerjakan.

Nyamuk

Malam itu seperti biasa Abi bertelekan di tempat tidurku. Sambil memperhatikan ammahnya yang mengetik, Abi akan sibuk bertanya. Baik apa yang aku lakukan, apa isi ketikan, atau hal lain yang tidak ada hubunganya dengan kejadian saat itu. Anak ini memang selalu menempel dengan ammahnya. “Mah, koq sekarang banyak nyamuk ya di kamar ammah.” Tanya Abi “Abang belum mandi ya?” Ledekku. “Ih…ammah tu yang belum mandi.” Sahut Abi membela diri. “Mah, kenapa sih Allah menciptakan nyamuk. Kan nanti mati Abi pukul, plekkk.” Seru Abi sambil mempraktekkan memukul nyamuk di keningnya. Mulai, pertanyaan anak kritis ini harus dijawab sebisany. Biasanya Abi akan memberondong dengan pertanyaan berikutnya. “Bang, Allah menciptakan sesuatu itu pasti ada maksudnya, ada gunanya. Bahkan nyamuk itu disebut Allah di dalam Al Quran loh. Coba Abang buka Al Quran besar terjemahan itu.” Aku menunjuk Al Quran besar di barisan rak buku di samping   tempat tidur. “Yang ini kan mah. buka su

Indahnya Ikatan Itu

Terkadang sadar atau tidak kita dapat membuat kesalahan pada orang lain. Sayangnya kita tidak tahu jika kesalahan kita akan berdampak luas bagi sebuah hubungan, menimbulkan masalah pada satu, dua atau beberapa pihak. Memang waktu adalah obat terbaik untuk meredam sebuah masalah. Namun ada kalanya waktu akan menimbulkan kekakuan dan keangkuhan untuk menyelesaikan masalah. Dibutuhkan kebesaran hati untuk memulai. Sebagaimana sebuah kisah dulu. Kisaran duapuluh tahun yang lalu sebuah kisah bermula. Layaknya sebuah sinetron Indonesia. Sebuah kisah penikahan yang tidak didukung salah satu pihak. Sang perempuan adalah gadis lugu yang sangat rajin, sedangkan sang lelaki adalah anak semata wayang seorang janda. Tersebutlah mereka menikah secara sah dengan restu dari kedua orang tua kedua mempelai. Bahkan sang mertua yang seorang janda juga sangat menginginkan pernikahan itu terlaksana segera. Sebuah pernikahan yang bahagia, lengkap dengan hadirnya dua orang putri yang sangat mani

Ketertarikan

“Ibu guru Bahasa Indonesia ya.” Tanya seorang pengawas sekolah. “Saya kira ibu guru Bahasa Indonesia.” Ujar seorang peserta PLPG. Itu adalah dua di antara pernyataan teman atau kenalan yang menduga jika saya adalah seorang  guru Bahasa Indonesia. Bukan tanpa alasan dugaan itu muncul. Beberapa kali saya membimbing siswa dalam lomba kepenulisan. Saya pernah punya menjadi juri sebuah lomba kepenulisan atau pernah didaulat untuk sekedar menjadi MC abal-abal pada   suatu acara. Ah, percaya sekali penanggung jawab acara itu 😊 Intinya terkait dunia literasi. Sebenarnya keinginan untuk lebih mengasah kompetensi menulis adalah karena adanya kesadaran bahwa menulis adalah sebuah kebutuhan. Menulis adalah bagian dari mengikat ilmu dan meninggalkan jejak kebaikan. Bahkan menulis adalah sebuah keberanian ujar Pramoedya Ananta Toer. Entahnya, intinya saya sedang belajar menulis sekarang. Semoga kelak dapat memberikan karya bermanfaat yang menjadi pemberat timbangan kebaikan. Dilain wa

Masuk Surga

“Ammah, pokoknya Abi mau masuk surga saja. Surga, tidak mau masuk neraka.” Seloroh Abi. Tiba-tiba keponakanku yang masih duduk di kelas II SD itu datang kembali. Abi mengenakan stelan baju koko dan celana panjang lengkap dengan kopiahnya, tanda siap untuk pergi ke TPA. Sedangkan aku masih berpeluh berpacu dengan laju alat setrika yang kian lambat karena kelelahan. “Abang tahu bagaimana cara masuk surga?” Tanyaku memancing. “Abi harus jadi anak baik, sholat terus, ke TPA kan mah.” Jawab Abi Pasti jawaban Abi ini juga berasal dari kalimat gurunya juga. Tentu saja kebalikan dari neraka tadi pikirku. “Benar bang, orang yang masuk surga itu adalah orang yang beriman dan berbuat kebajikan. Percaya akan adanya Allah, lalu   menaati apa yang diperintahkan   Allah. Misalnya tadi, sholat, puasa, mengaji, menjadi anak baik dan patuh kepada orangtua. Kemudian juga harus   menjauhi apa-apa yang Allah larang. Misalnya, tidak boleh berbohong, tidak boleh menyakiti orang lain, ti