Langsung ke konten utama

Postingan

Apalagi Neraka

“Ammah….Abi tidak mau masuk neraka, panas, ada api, takut.” Seru Abi tiba-tiba. Padahal bocah delapan tahun ini masih mengenakan seragam putih merah tanda baru pulang sekolah. Keringat masih mengucur berkat pembakaran kalori dan terik mentari saat Abi pulang bersepeda. “Ya iyalah, siapa yang mau masuk neraka, Ammah juga tidak mau bang.” Jawabku sekenanya, sambil terus menyelesaikan setrikaan yang masih menumpuk. “Abi mau nurut sama ibu, sama ayah, sama nenek, sama ammah juga. Abi akan sholat terus mah, mengaji di TPA setiap hari.” Abi mulai menjelaskan dengan bahasanya asal muasal pernyataan awal tadi. Kemudian mengambil posisi duduk bersandar di depanku. Terpaksa aku menghentikan laju alat setrika. Memandang dan mempersiapkan diri menjelaskan serta   menjawab pertanyaan Abi seperti biasanya. “Ohhhh…Tadi Ibu guru bilang kalau abi tidak nurut sama ibu, ayah, nenek dan ammah, maka Abi akan masuk neraka ya? Kalau tidak sholat dan tidak setiap hari ke TPA juga? Selidi...

Cahaya Hati

Sebenarnya bukan Risma saja yang akan tertarik membaca terjemah dan tafsir surat Al Baqarah tadi. Diskusi denganya membuatku merasa wajib membaca dan merenungkan kembali tafsir ayat-ayat itu. Mengapa orang sekelas pak ustazd, guru mengaji yang ilmu agamanya tidak diragukan dapat tergolong menjadi orang munafik. Berdalih perbaikan namun sejatinya malah merusak karena mengajak kepada yang   mungkar. Lama aku termenung, mengulang dan membaca lagi maksud tafsir ayat itu. Cahaya hati,   keimanan yang sudah ada dan sangat terang itu ternyata   bisa sekejap saja diambil oleh Allah. Jikalau Dia berhendak mencabut cahaya yang menyinari hati, maka seketika akan gelap gulita. Oleh karenanya, meskipun sebelumnya ia seorang pemuka agama, paham Islam, dengan mudah seolah berpaling dalam kesesatan. Sungguh sangatlah merugi, ketika Allah mencabut cahaya itu, seolah dia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Seakan Allah menutup semua indranya sehingga tidak dapat melihat ke...

Berdalih Perbaikan Namun Merusak

Gadis manis ini belum beranjak, diskusi yang berawal dari curhat semakin memantik rasa ingin tahunya. Lagi-lagi Risma akan mengejar dengan dalih lalu berpikir beberapa saat.  Kali ini Risma menyoroti salah satu pimpinan di tanah air yang sedang ramai dibicarakan. Bukan muslim memang, namun pendukungnya luar biasa riuh dan seolah ramai. "Bu, pak ustadz ditempat mengaji Risma waktu kecil dulu juga mendukung pak Toni untuk menjadi gubernur. Kata pak ustad, pak Toni itu jujur, bersih dan tidak korupsi, memihak rakyat kecil. Pokoknya bagus" Dalih Risma meminta pembenaran. "O...begitu, terus jika pak ustadz mendukung, apakah menjadi benar?" selidikku, mengorek daya kritisi gadis ini. "Ya, tidak sih bu. Tapi mamak di rumah dan kakak-kakak jadi ikut mendukung pak Toni. Mereka percaya pilihan pak ustadz." Risma terlihat bingung. Begitulah, diskusi ini menjadi panjang. Tidak kurang satu jam, baru simpul pemahaman gadis manis itu terurai. Aku jel...

Menilai

“Bu, apakah bisa dikatakan munafik itu namanya?” Tanya Risma. “Sekarang ibu tanya ke Risma, munafik itu apa?” Saya malah balik bertanya kepada Risma. “Munafik itu kan cirinya ada tiga bu, satu kalau berkata dia bohong, dua kalau berjanji dia ingkar dan yang terakhir jika diberi amanah dia khianat.” Jelas Risma. “Lalu apakah Risma sudah menemukan ketiga hal itu pada diri teman   Risma yang diceritakan kepada ibu?” Kembali saya bertanya. Muka Risma terlihat bingung. Aku tahu hal itu dikarenakan Risma sudah menceritakan sejak awal ikhwal pertanyaannya tadi. Risma menceritakan bagaimana temanya berdusta ketika berbicara. Temannya juga pernah mengingkari janji, bahkan tidak menjalankan amanah yang diberikan pada suatu kali. “Maksud ibu…?” Risma mencari maksud pertanyaanku. “Iya nak, maksud ibu cukupkah dengan cerita Risma tadi sehingga menghukumi dirinya sebagai orang munafik?” Aku mencari isyarat   kepahaman di mata Risma. Risma tersenyum tipis, lalu ...

Jalan Hidayah Anisa

Hari ini Anisa sangat kesal. Siswa mentoring yang baru enam bulan bergabung dengan Rohis itu sedang semangat-semangatnya belajar Islam menggerutu dan bercerita dengan kening berkerut.  "Iya kan bu, hidayah itu dikejar dan ditangkap. Bukan malah sudah datang lalu dibiarkan pergi." Begitu gerutu Anisa tadi. "Sudah tahu perintah berjilbab itu ada dalam Al-Qur'an, tetapi masih saja bilang 'nanti menunggu hidayah'. Keburu kabur hidayah itu." Muka Anisa semakin berlipat. Kalimat-kalimat Anisa mengalir tanpa terbendung. Aku mendengarkan, mencoba merasakan hatinya yang bergemuruh semangat. Rupanya pemahaman Anisa akan hidayah sudah sangat baik. Gadis cantik itu mampu menjawab alasan temannya yang diingatkannya akan perintah menggunakan hijab. Menanti hidayah, kata-kata itu seringkali dijadikan alasan untuk menunda perintah.  Bukan hanya soal mengapa belum berjilbab saja. Misalnya, saat kemampuan ekonomi sudah mumpuni untuk berhaji, kata-kata...

Ayah

Ayah, aku sudah hafal Al Fatihah Aku juga sudah bisa bertakbir dengan sempurna Ayah, coba letakkan secangkir gelas di atas punggungku saat rukuk Aku bisa membuatnya tidak tumpah Kakiku juga tidak sakit lagi saat duduk tasyahud Ayah, aku masih ingat kata ayah mengapa aku harus bersujud Aku harus menghilangkan kesombonganku Mukaku sama tinggi dengan telapak kaki Ayah juga bilang aku harus sholat dengan khusuk Seolah  mencabut anak panah yang tertusuk di kaki namun tetap bergeming Namun yang seperti itu aku masih belum bisa  yah Kadang malah aku ingat kunci yang hilang saat sholat Akan tetapi aku akan terus  berusaha Seperti pesan Ayah, Sholatlah seperti sholatnya Rasulullah InshaAllah aku akan bisa #5

Pedoman Hidup

“Kamusnya hidup kita adalah Al Qur’an, kalian mau mencari apa saja pasti ada di dalam Al Qur’an.” Jelas Risma. “Iya kak, bahkan masalah hutang-piutang harus dicatat juga ada kan dalam Al Quran.” Anisa menambahkan. Teman-teman lainnya mengangguk mengiyakan. “Iya ada, segala urusan hidup   kita semuanya diatur dan diarahkan dalam Al-Quran.” Terang Risma lagi. Risma menjelaskan bahwa Al-Quran adalah sumber dari segala hukum dan aturan. Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Jika ingin sukses di dunia dan di akhirat harus mengikuti aturan dalam Al-Quran. Karena Islam itu mudah, namun tidak pula dimudah-mudahkan. Kuncinya adalah mengikuti semua pentunjuk dalam Al-Quran. Risma menambahkan, bahwa AL-Quran bukankah barang yang sangat sakral sehingga hanya disentuh setiap Ramadhan saja. Selain waktu itu hanya berdebu di dalam lemari kaca. Al-Quran memang agung, namun keagungannya berupa ayat-ayat di dalamnya, bukanlah wujud fisiknya. Maka dengan membacanya, mempelajarinya dan mengama...