“Ammah….Abi tidak mau masuk neraka, panas, ada api, takut.” Seru Abi tiba-tiba. Padahal bocah delapan tahun ini masih mengenakan seragam putih merah tanda baru pulang sekolah. Keringat masih mengucur berkat pembakaran kalori dan terik mentari saat Abi pulang bersepeda. “Ya iyalah, siapa yang mau masuk neraka, Ammah juga tidak mau bang.” Jawabku sekenanya, sambil terus menyelesaikan setrikaan yang masih menumpuk. “Abi mau nurut sama ibu, sama ayah, sama nenek, sama ammah juga. Abi akan sholat terus mah, mengaji di TPA setiap hari.” Abi mulai menjelaskan dengan bahasanya asal muasal pernyataan awal tadi. Kemudian mengambil posisi duduk bersandar di depanku. Terpaksa aku menghentikan laju alat setrika. Memandang dan mempersiapkan diri menjelaskan serta menjawab pertanyaan Abi seperti biasanya. “Ohhhh…Tadi Ibu guru bilang kalau abi tidak nurut sama ibu, ayah, nenek dan ammah, maka Abi akan masuk neraka ya? Kalau tidak sholat dan tidak setiap hari ke TPA juga? Selidi...
Senyum pagi menunaikan cita-cita hari ini. Bersemangat untuk berbagi.