Langsung ke konten utama

Postingan

Waktu Terbit Matahari dan Grafik Fungsi Trignometri

Kurikulum saat ini berpijak kepada kemanfaatan materi pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Kejadian, fenomena alam maupun  permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dapat dikaitkan dengan materi pelajaran.  Salah satu fenomena alam yang dapat dikaitkan dengan pembelajaran matematika adalah waktu terbit matahari. Ternyata waktu terbit matahari dapat diubah menjadi sebuah fungsi trigonometri. Pembahasan terkait waktu terbit matahari menjadi fungsi trigonometri dapat dilihat pada postingan sebelumnya di sini. Untuk lebih jelasnya bagaimana waktu terbit matahari dapat dikaitkan dengan materi grafik fungsi trigonometri dapat dilihat lebih jelas pada tayangan video belajar bersama di bawah ini. Video  yang diperankan oleh siswa  SMA Negeri 1 Koba  yaitu Ari Amanda, Revi Yudistira, Sela Violetta dan Nur Hanifah mengambil lokasi di perkebunan lada di Bangka Tengah.

PENDEKATAN DIFFERENTIATED INSTRUCTION (DI) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS MATEMATIKA SISWA KELAS XI MIPA-2 DI SMAN 1 KOBA

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan pendekatan Differentiated Instruction (DI), sebagai salah satu alternatif pendekatan pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar matematika siswa pada materi matriks. Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI.MIPA-2 SMAN 1 Koba yang berjumlah 30 siswa. Instrumen yang digunakan terdiri dari tes hasil belajar, lembar observasi, dan wawancara. Berdasarkan analisis data dari hasil tes akhir dan temuan-temuan selama penelitian tindakan ini, dapat disimpulkan bahwa terjadi kenaikan nilai tes hasil belajar dari siklus 1 senilai 0,67 atau sebesar 28% pada nilai tes hasil belajar siklus 2. Kemudian rata-rata persentase aktivitas belajar yang semula hanya sebesar 75,63% pada siklus 1 naik menjadi 95,46% pada siklus 2. Selain itu, peserta didik merespon positif penerapan DI selama pembelajaran. Hal ini terungkap saat diadakan wawancara kepada siswa. Siswa merasakan aktiv...

CASYOPEE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Casyopee adalah singkatan dari Cacul Symbolique des Possibillites a l”Eseignant et aux Eleves (peluang penawaran komputasi simbolik untuk guru dan siswa). Casyopee bagian dari CAS ( Computer Al gebra System ) yang lahir dari inisiatif guru dan peneliti pendidikan lebih dari 10 tahun yang lalu yang tergabung ke dalam wadah yang bernama Remath Eropa . Casyopee diperuntukkan penggunaannya pada jenjang SMP ke atas ini merujuk kepad a fitur-fitur yang disediakan .   Casyopee dapat bekerja lebih baik pada materi fungsi mengingat fitur khas C asyopee yang dapat membuat parameter secara interaktif . Dengan penggunaan C asyopee dalam jangka waktu yang lama dan terus-menerus telah berhasil meningkatkan kemampuan matematis siswa khusu s nya di n egara asal software C asyopee yaitu Perancis. Tulisan lengkap dapat diunduh di sini Indonesian Digital Journal of Mathematics and Education Volume II No.3 Tahun 2015

ARKI Mizan Bersemi di SMA Negeri 1 Koba

Geliat dunia kepenulisan semakin terasa di SMA Negeri 1 Koba. Mutiara-mutiara negeri Laskar Pelangi semakin bersinar ditataran kegiatan kepenulisan tingkat nasional. Sebut saja acara lomba Akademi Remaja Kreatif Indonesia (ARKI) yang diselenggarakan oleh penerbit Mizan bekerja sama dengan Kemdikbud. Adapun ajang yang dilombakan dalam ARKI adalah lomba kepenulisan cerpen, syair dan komik. Kegiatan ini telah beberapa kali dilaksankan, namun baru tahun 2017 diikuti oleh siswa SMA negeri 1 Koba. Alasannya klasik, ketidaktahuan atau fakir informasi :) ARKI tahun 2017 diikuti oleh tujuh siswa SMA negeri 1 Koba. Irma, Ari Amanda, Mega Puspita dan Hasanah  mengikuti lomba cerpan. Kemudian Ayu Zagita dan Nur Hanifah untuk kategori syair, sedangkan komik diikuti oleh Tania Sawitri.  Partisipasi mereka berbuah manis.  Terdapat satu siswa yang lolos seleksi ke tingkat nasional. Ayu Zagita berhasil terseleksi dalam kategori syair. Padahal syair dan membuat syair adal...

Mencoret dengan Benar

Meneruskan tulisan lalu tentang miskonsepsi. Berbagai istilah yang digunakan guru dalam menjelaskan materi terkadang menjadi bumerang bagi siswa. Contoh sederhananya adalah istilah mencoret. Sejak siswa berada di bangku SD dan SMP terbiasa dengan istilah mencoret dan habis. Sebenarnya istilah mencoret dan habis ini tidaklah salah. Guru berniat memudahkan siswa untuk mengingat, namun jika tidak berhati-hati maka siswa akan membuat kesalahan konsep pada operasi bilangan. Berikut disajikan dua cara mencoret yang sering dilakukan siswa. Mencoret dengan hasil benar Mencoret dengan hasil salah Contoh pengerjaan soal siswa di atas memberikan pengertian bahwa siswa berpikir ketika dilakukan kegiatan mencoret maka bilangan tersebut menjadi hilang atau istilah siswa habis. Padahal bilangan itu sendiri tidak habis namun habis dibagi menjadi satu. Angka satu ini yang sering diabaikan sehingga pada soal-soal atau permasalahan berbeda akan menjadi salah. Mencoret dengan te...

Contoh Miskonsepsi

Setiap memulai tahun pelajaran baru, saya yang biasanya mengajar di kelas X beberapa kali (jika tidak ingin disebut sering) menemui cerita yang sama. Diantaranya adalah siswa yang belum hafal perkalian. Karena untuk mempercepat proses kalkulasi selain paham konsep perkalian, siswa sangat disarankan hafal perkalian. Namun beberapa siswa masih kesulitan dalam hal ini. Selain itu, masalah operasi bilangan negatif positif juga sama. Masih saja mereka kesulitan menyelesaikannya padahal sudah menginjak kelas X di SMA. Bahkan, bila saya mengulang kembali konsep operasi bilangan. Kesalaha tetap terjadi lagi. Seolah pelajaran terdahulu mereka sulit sekali dirubah. Apa yang mereka pahami pada awal mengenal konsep operasi seringkali belum benar.  Banyak faktor yang mempengaruhinya. Diantaranya adalah miskonsepsi dan atau memang belum paham konsep. Saya sangat tertarik dengan faktor miskonsepsi. Karena hal ini perlu menjadi perhatian guru. Istilah yang kadang diberikan guru akan melek...

Pelatihan Penulisan Soal Tahun 2017

Perkembangan teknologi terus melesat. Kita, mau tidak mau, dan akhirnya harus mau mengikuti perkembangan teknologi untuk menyesuaikan kebutuhan saat ini. Termasuk pula dalam teknis penulisan soal nasional. Sebelumnya Kemdikbud dalam hal ini Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) mengadakan soal ujian nasional ataupun bank soal nasional dengan mendatangkan guru-guru penulis soal yang biasanya berdomisili di Jabodetabek. Hal ini tentu saja di bawah alasan merampingan biaya operasional.  Menurut salah  penulis soal yang membantu puspendik saat itu. Sepulang menjalankan tugas sebagai guru, mereka akan ke Puspendik untuk menulis soal. Teknisnya semua dilakukan secara manual. Tidak ada perangkat teknologi yang diperkenankan dibawa masuk saat itu, termasuk laptop atau ponsel. Biasanya rata-rata mereka dapat menulis satu soal setiap harinya. Namun tahun ini Puspendik mulai mengubah pola mengadaan bank soal Nasional. Melalui laman https://siap.puspendik.kemdikbud.go.i...