Langsung ke konten utama

Postingan

ARKI Mizan Bersemi di SMA Negeri 1 Koba

Geliat dunia kepenulisan semakin terasa di SMA Negeri 1 Koba. Mutiara-mutiara negeri Laskar Pelangi semakin bersinar ditataran kegiatan kepenulisan tingkat nasional. Sebut saja acara lomba Akademi Remaja Kreatif Indonesia (ARKI) yang diselenggarakan oleh penerbit Mizan bekerja sama dengan Kemdikbud. Adapun ajang yang dilombakan dalam ARKI adalah lomba kepenulisan cerpen, syair dan komik. Kegiatan ini telah beberapa kali dilaksankan, namun baru tahun 2017 diikuti oleh siswa SMA negeri 1 Koba. Alasannya klasik, ketidaktahuan atau fakir informasi :) ARKI tahun 2017 diikuti oleh tujuh siswa SMA negeri 1 Koba. Irma, Ari Amanda, Mega Puspita dan Hasanah  mengikuti lomba cerpan. Kemudian Ayu Zagita dan Nur Hanifah untuk kategori syair, sedangkan komik diikuti oleh Tania Sawitri.  Partisipasi mereka berbuah manis.  Terdapat satu siswa yang lolos seleksi ke tingkat nasional. Ayu Zagita berhasil terseleksi dalam kategori syair. Padahal syair dan membuat syair adal...

Mencoret dengan Benar

Meneruskan tulisan lalu tentang miskonsepsi. Berbagai istilah yang digunakan guru dalam menjelaskan materi terkadang menjadi bumerang bagi siswa. Contoh sederhananya adalah istilah mencoret. Sejak siswa berada di bangku SD dan SMP terbiasa dengan istilah mencoret dan habis. Sebenarnya istilah mencoret dan habis ini tidaklah salah. Guru berniat memudahkan siswa untuk mengingat, namun jika tidak berhati-hati maka siswa akan membuat kesalahan konsep pada operasi bilangan. Berikut disajikan dua cara mencoret yang sering dilakukan siswa. Mencoret dengan hasil benar Mencoret dengan hasil salah Contoh pengerjaan soal siswa di atas memberikan pengertian bahwa siswa berpikir ketika dilakukan kegiatan mencoret maka bilangan tersebut menjadi hilang atau istilah siswa habis. Padahal bilangan itu sendiri tidak habis namun habis dibagi menjadi satu. Angka satu ini yang sering diabaikan sehingga pada soal-soal atau permasalahan berbeda akan menjadi salah. Mencoret dengan te...

Contoh Miskonsepsi

Setiap memulai tahun pelajaran baru, saya yang biasanya mengajar di kelas X beberapa kali (jika tidak ingin disebut sering) menemui cerita yang sama. Diantaranya adalah siswa yang belum hafal perkalian. Karena untuk mempercepat proses kalkulasi selain paham konsep perkalian, siswa sangat disarankan hafal perkalian. Namun beberapa siswa masih kesulitan dalam hal ini. Selain itu, masalah operasi bilangan negatif positif juga sama. Masih saja mereka kesulitan menyelesaikannya padahal sudah menginjak kelas X di SMA. Bahkan, bila saya mengulang kembali konsep operasi bilangan. Kesalaha tetap terjadi lagi. Seolah pelajaran terdahulu mereka sulit sekali dirubah. Apa yang mereka pahami pada awal mengenal konsep operasi seringkali belum benar.  Banyak faktor yang mempengaruhinya. Diantaranya adalah miskonsepsi dan atau memang belum paham konsep. Saya sangat tertarik dengan faktor miskonsepsi. Karena hal ini perlu menjadi perhatian guru. Istilah yang kadang diberikan guru akan melek...

Pelatihan Penulisan Soal Tahun 2017

Perkembangan teknologi terus melesat. Kita, mau tidak mau, dan akhirnya harus mau mengikuti perkembangan teknologi untuk menyesuaikan kebutuhan saat ini. Termasuk pula dalam teknis penulisan soal nasional. Sebelumnya Kemdikbud dalam hal ini Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) mengadakan soal ujian nasional ataupun bank soal nasional dengan mendatangkan guru-guru penulis soal yang biasanya berdomisili di Jabodetabek. Hal ini tentu saja di bawah alasan merampingan biaya operasional.  Menurut salah  penulis soal yang membantu puspendik saat itu. Sepulang menjalankan tugas sebagai guru, mereka akan ke Puspendik untuk menulis soal. Teknisnya semua dilakukan secara manual. Tidak ada perangkat teknologi yang diperkenankan dibawa masuk saat itu, termasuk laptop atau ponsel. Biasanya rata-rata mereka dapat menulis satu soal setiap harinya. Namun tahun ini Puspendik mulai mengubah pola mengadaan bank soal Nasional. Melalui laman https://siap.puspendik.kemdikbud.go.i...

Guru Matematika Bisa Menulis

Menulis, kata itu terasa sangat menakutkan awalnya. Pertama kali saya menulis berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang tanpa kabar. Dulu, kisaran tahun 2007 saya pernah mengikuti diklat di LPMP. Saat itu masih teramat lugu. Sebelum penutupan diklat panitia membagikan selembar brosur lomba "Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran (KGP)".  Brosurnya sangat menarik. Terdapat foto guru-guru yang berkumpul disebuah stadion atau aula besar dengan menggunakan baju batik yang sama. Saya pikir pasti mereka adalah guru-guru hebat dari seluruh Indonesia. Berkumpul bersama, bercerita pengalaman mengajar dari belahan bumi Indonesia sungguh sangat luar biasa. Timbul motivasi kuat dalam diri saya untuk mengikuti lomba tersebut. Saya ingin berkumpul bersama guru-guru hebat dari nusantara dan belajar dari mereka. Sepulang dari kegiatan tersebutlah saya membeli sebuah buku tentang PTK. Buku itulah modal awal saya menulis PTK. Jika dikenang dan dibaca ulang, saya sangat malu dengan PTK i...

Seorang Matematikawan

100 Karya Muda

Rasanya tidak berlebihan menamakan target baru ini dengan program "100 Karya Muda". Sejak keikutsertaan lomba menulis lalu yang berbuah manis, saya yakin siswa SMAN 1 Koba dapat menyukseskan program ini. Tulisan mereka cukup bernas. Bahkan saya berpikir beberapa tahun yang akan datang mereka akan lebih terampil menulis ketimbang saya. Saat ini,  saya masih belajar menulis. Berbekal motivasi menulis sebelumnya dan penjelasan akan goa l dari program ini maka penulis-penulis muda  memulai karya. Tulisan artikel ilmiah populer mereka mulai diterbitkan. Karya Irma  KelasX IPA 1 Karya Nilam Munawaroh  Kelas X Bahasa Karya Sella Violetta Kelas X IPA 1 Terimakasih Rakyat Pos , berkat kesediaannya menerbitkan artikel dari penulis-penulis muda SMAN 1 Koba. Bersiaplah untuk menerima tulisan mereka lebih banyak lagi. Karena program ini bernama "100 Karya Muda".